Translate

Selasa, 29 November 2016

RESENSI NOVEL saman karya Ayu Utami



Pengorbanan Seorang Wanita
Description: C:\Users\Acer\Pictures\saman.jpgJudul Buku      : Saman                                                                      
Pengarang       : Ayu Utami
Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal               : 206 Halaman
Genre              : Fiksi
Cetakan           : ke-1 : April 1998
                          Ke-2 : Mei 2013
Resentator       : Yusrotillah
     Apakah anda pernah membaca novel Saman karya Ayu Utami ? kalau belum silahkan simak resensi saya ini. Novel karya Ayu Utami adalah salah satu karya sastra yang mutakhir di zamannya. Munculnya jiwa feminis pada tokoh laila membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca. Ayu Utami kali ini mengambil nama novelnya dengan cukup sederhana yaitu mengambil nama dari salah satu tokoh yang ada didalamnya. Penceritaan dalam novel saman adalah seputar gender (jenis kelamin) dan hubungan percintaan pada tokoh-tokohnya.
     Awalnya menggambarkan tentang konflik atau pertikaian yang terjadi pada suatu keadaan di pertambangan minyak bumi antara Rosano yang menjadi kepala pengeboran dan Sihar bawahannya. Sihar membenci Rosano karena kesok tahuannya akan halyang berujung dengan kecelakaan kerja dan meminta korban nyawa. Sedangkan tokoh utama dalam novel ini adalah Saman. Saman di sini digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pekerja keras, dan lebih mementingkan kepentingan bersama.
     Novel ini juga membahas tentang hubungan badan antar tokoh-tokohnya. Ada hal yang membuat Laila ingin pergi bersama Sihar ke New York. Karena adat budaya di sana berbeda dengan di Indonesia, dimana hubungan badan dalam tanda kutip bebas dilakukan dengan modal saling cinta kedua bela pihak tanpa harus menikah terlebih dahulu. “barangkali saya terobsesi padanya, yang bayangannya selalu dating dan jarang pergi. Barangkali saya letih dengan segala yang menghalangi hubungan kami di Indonesia. Capek dengan nilai-nilai yang terkadang seperti terror. Saya ingin pergi dari itu semua, dan membiarkan hal-hal yang kami inginkan terjadi. Mendobrak yang selama ini menyekat dalam hubungan saya dengan sihar.” (Hal. 29)
     Tapi dalam pertengahan ceritanya. Novel ini akan membahas tentang bagaimana penindasan orang yang lebih tinggi derajatnya dalam ukuran uang terhadap kaum yang dianggap bawahan. Dalam hal ini tokoh Athanasius Wisanggeni yang tak lain adalah Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Saman sendiri orang yang menggerakkan mata masyarakat akan perlunya sebuah keadilan, Saman adalah mantan seorang Pastor yang sekarang berubah karena hawa nafsu manusia yang ada pada dirinya.
     Laila sebagai salah satu wanita yang bekerja pada suatu perusahaan tambang, yang mengalami kemelut cinta. Ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang bernama Sihar, yang ternyata memiliki istri dan anak. Laila sempat berharap bahwa Sihar akan lebih memilih dirinya dibandingkan anak dan istrinya, namun kenyataannya takdir tak berkehendak. Sihar lebih memilih kembali pada istri dan anaknya, pada akhir penceritaan, Laila tidak mendapatkan cintanya.
     Kedudukan wanita dan pria sama di mana-mana. Wanita memiliki jabatan yang sama di instansi manapun. Wanita juga berhak mendapatkan cinta dalam hidup dan kehidupannya. Tetapi pada kenyataannya kedudukan wanita semakin tidak dihiraukan, meskipun telah berusaha menjadi sesuatu yang lebih dibandingkan pria. Di sini Laila berusaha mendapatkan itu semua, tetapi semua usaha dan pengorbanannya tidak berhasil. Dan pada kenyataannya kedudukan wanita tetap sama seperti dahulu dan tidak berubah.
     Novel karya Ayu Utami ini  kental dengan hubungan seks antar tokohnya dengan menggunakan kata-kata yang mencengangkan bila terdengar di telinga pembaca. Penulis seakan ingin menampilkan hal-hal yang sarat akan hubungan badan antar manusia. Seperti yang terdapat pada kutipan “ Dan aku menamai keduanya puting karena merupakan ujung busung dadamu. Dan aku menamai kelentit”. (hal.198). inilah yang membuat pembaca tercengang, mengapa tulisan ini bisa tercantum pada sebuah novel. Mungkin ini adalah salah satu daya tarik pengarang dalam menyajikan sebuah karya, dan pengarang juga ingin menjelaskan bahwa seks bebas akan merusak masa depan dan nama baik keluarga.
     Pengarang menggunakan bahasa yang sangat terbuka seperti tadi yang saya kutip,maka tidak semua umur boleh membacanya. Pengarang juga menambahkan kata-kata asing atau baru untuk menambah kosakata yangdimiliki pembaca. di sini pengarang juga menceritakannya lengkap dengan tanggal suatu kejadiannya di dalam novelnya agar lebih jelas.
     Bagi peminat novel-novel yang berjiwa feminis mungkin ini adalah salah satu referensi yang layak digunakan sebagai bahan bacaan ataupun dijadikan koleksi. Dengan membaca novel ini pembaca tidak akan lagi menganggap bahwa kedudukan pria dan wanita tidaklah berbeda. Wanita tidak bisa dianggap remeh untuk siapapun.

1 komentar: